Reza Rahadian Arahkan Artis Tunanetra di Film Annisa: Fokus, Profesional, Tanpa Perlakuan Khusus
Reza Rahadian Arahkan Artis Tunanetra di Film Annisa: Fokus, Profesional, Tanpa Perlakuan Khusus – Jakarta – Reza Rahadian, aktor sekaligus sutradara film pendek “Annisa”, menunjukkan pendekatan unik dalam mengarahkan aktor tunanetra. Ia menolak memberikan perlakuan khusus yang berlebihan. Sebaliknya, ia memperlakukan para aktor seperti profesional lainnya. Fokus pada kemampuan dan profesionalisme menjadi kunci utama arahan Reza.
Film “Annisa” merupakan bagian dari program Next Step Studio yang akan ditayangkan perdana di Cannes Film Festival 2026. Program ini mempertemukan sineas Indonesia dengan sineas Asia Tenggara untuk berkolaborasi membuat film pendek 15 menit.
Reza Rahadian: Sutradara yang Menghargai Profesionalitas Aktor
Dalam proses syuting, Reza tidak membedakan aktor tunanetra dengan aktor lainnya. Ia memberikan arahan yang sama tegas dan jelas. Pendekatan ini menuai apresiasi dari para aktor karena dianggap menghargai kemampuan profesional mereka.
“Aktor tunanetra adalah profesional. Mereka tidak butuh dikasihani. Mereka butuh slot arahan yang jelas, sama seperti aktor lain,” ujar Reza dalam sesi wawancara di sela-sela persiapan Cannes.
Reza mengakui bahwa awalnya ia memikirkan untuk memberikan keringanan atau perlakuan khusus. Namun, setelah berdiskusi dengan para aktor, ia berubah pikiran. “Mereka bilang, ‘Perlakukan kami seperti aktor biasa. Jangan karena kami tunanetra lalu Anda jadi tidak tegas.’ Itu pelajaran berharga bagi saya,” kenang Reza.
Sinergi dengan Sineas Filipina
Film “Annisa” disutradarai Reza Rahadian bersama sutradara Filipina, Sam Manacsa. Kolaborasi lintas negara ini menjadi pengalaman berharga bagi Reza dalam memahami pendekatan pengarahan yang berbeda.
“Saya belajar banyak dari Sam tentang bagaimana mengarahkan aktor lintas budaya. Meski berbeda latar belakang, esensi mengarahkan itu sama: fokus, jelas, dan profesional,” kata Reza.
Dukungan untuk Film Indonesia di Cannes
Keikutsertaan “Annisa” di Cannes Film Festival 2026 menjadi kebanggaan tersendiri. Indonesia mengirimkan empat film pendek ke festival film paling bergengsi di dunia tersebut. Keempat sutradara yang terlibat adalah Reza Fahriyansyah, Shelby Kho, Reza Rahadian, dan Khozy Rizal.
Produser Next Step Studio 2026, Yulia Evina Bhara, mengungkapkan bahwa pemilihan para sutradara ini didasarkan pada rekam jejak artistik mereka. “Mereka memiliki rekam jejak kuat melalui karya film pendek di berbagai festival internasional,” ujarnya.
Arahan Profesional untuk Aktor Tunanetra
Pendekatan Reza dalam mengarahkan aktor tunanetra menjadi sorotan. Ia menggunakan metode komunikasi yang jelas dan lugas. Kejelasan intonasi dan detail ruang menjadi kunci utama dalam memberikan arahan.
Ia tidak ragu mengulang adegan jika belum sesuai ekspektasi. “Saya pernah mengulang adegan sampai 10 kali. Aktornya sendiri yang minta diulang karena merasa belum maksimal. Itu profesionalisme,” jelas Reza.
“Aktor tunanetra justru memiliki pendengaran dan intuisi yang sangat tajam. Mereka bisa menangkap emosi dari intonasi suara saya. Jadi saya harus benar-benar fokus saat memberikan arahan,” tambahnya.
Perspektif Baru dalam Sineas Indonesia
Kolaborasi dengan aktor penyandang disabilitas membuka wawasan baru bagi Reza sbobet sebagai sutradara. Ia menyadari bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk berkarya secara profesional.
“Ini pengalaman yang mengubah cara pandang saya. Saya jadi lebih percaya bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan yang sama. Selama kita memberikan ruang dan arahan yang tepat, mereka bisa berkarya dengan luar biasa,” tutup Reza.
Kesimpulan: Reza Rahadian memilih pendekatan profesional tanpa perlakuan khusus dalam mengarahkan aktor tunanetra di film “Annisa”. Ia menekankan fokus, kejelasan arahan, dan perlakuan setara. Film ini akan tayang perdana di Cannes Film Festival 2026 sebagai bagian dari program Next Step Studio. Pendekatan ini menginspirasi sineas Indonesia untuk lebih inklusif dalam berkarya.